ceritaku

Sebentar lagi udah mau PPL aja… Persiapannya belum apa-apa, fikiran masih kemana-mana. Huft, terkadang klo semua dipikirkan mau pecah ini kepalaku, belum apa-apa udah ngebayangin gimana susahnya menghadapi anak-anak SMA. Apalagi siswa-siswa yang jahil-jahil, aduuuuh, pusing pastinya.

Meskipun ini bukan lagi kali pertama mengajar, tapi tetap saja groginya luar biasa. insyaAllah ini adalah kali ke 3 untuk mengajar disekolah. Pengalaman pertama tentu saat PPL S1 di SMA N 2 Pariaman Februari 2010, trus penelitian November 2010 di sekolah yang sama dengan murid yang berbeda. Kali ke dua di SMA Tarbiyah Labuhanhaji Aceh Selatan tempat pengabdianku selama mengikuti program SM3T (lebih kurang 1 tahun).

Nah sekarang nih kali ke 3, PPL-PPG, aku dapat tugas di SMA 4 Padang… klo dilihat dari profil sekolah beserta murid-muridnya sih jauh beda. Aceh, di desa tertinggal, trus tiba-tiba sekarang di Padang, Kota Besar, WOW… Sungguh belum bisa ku bayangkan kawaaaaan… haahaha, akan ku coba melewati hari-hari penuh arti itu nanti. Tunggu ibu ya nak, 12 Agustus 2013 siap terjun. Dibantu ya…


ceritaku di massa Pengabdian 2012 di Aceh selatan

PENGALAMAN DI SM3T
Nama                                        : Silvia Albusta, S.Pd
Jurusan                                     : FISIKA
LPTK penyelenggara              : Universitas Negeri Padang
Daerah Pengabdian                 : Labuhanhaji Aceh Selatan
Nama Sekolah                         : SMAS Tarbiyah Labuhanhaji

Sebelum terjun lapangan, kita diberi pelatihan dulu selama 12 hari di UNP mulai dari tanggal 25 November s/d 6 Desember 2011. 6 hari indoor dan 6 hari outdoor. Selama pelatihan di indoor kami di ajarkan atau mengulang kembali serta menyamakan persepsi mengenai perangkat pembelajaran, mulai dari menyusun RPP, bahan ajar, alat dan media pembelajaran serta perangkat evaluasi. 6 hari sisanya kami di bawa kelapangan dalam rangka menguji fisik, dimana kami di bawa ke daerah yang keadaannya hampir sama dengan daerah sasaran. Dari pelatihan ini kami sudah dapat membayagkan bagaimana keadaan daerah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal) yang dimaksud.
Sebelum keberangkatan, persiapan sudah oke, mulai dari buku, pakaian dan lain-lain. Tanggal 10 Desember kami di berangkatkan ke aceh selatan dengan pesawat terbang sampai ke medan dan di medan kami sudah din anti oleh panitia disana dan perjalanan dilanjutkan dengan travel, bus dan L300. Kami berangkat sekitar 160 orang. Minggu pagi kami sampai di dinas pendidikan aceh selatan pukul 10.00 WIB. Karena mobilnya banyak, jadi kita sudah berpencar di jalan, dan semuanya berkumpul pada pukul 12.00 WIB di dinas tersebut.
Acara penyambutan dimulai, acara ini dihadiri oleh kepala dinas dan anggota, bupati aceh selatan serta kepala sekolah atau yang mewakili masing-masing sekolah tempat kami di tugaskan. Dalam acara tersebut kami disambut baik, kemudian diperkenalkan dengan kepala sekolah masing-masing. Setelah acara usai, masing-masing kami mencari kepala sekolah tempat kami bertugas dan bertemulah saya dengan teman satu tempat tugas dan saling berkenalan yaitu Bu Rahmawati (asal Payakumbuh, Ekonomi UNP), Bu Desi Agustina (asal Aceh, Biologi) dan Pak Syahrul (asal Aceh, Biologi di Univ. Abulyatama). Setelah berkenalan singkat dengan Kepala Sekolah Bpk Hawardi, S.Pd , Wakil Bpk Dasril, A.Md dan sesasama peserta satu tempat tugas kami langsung di bawa ke labuhanhaji. Karena yang dari padang kami berdua jadi kami saja yang ikut dengan kepala sekolah dan wakil, sedangkan 2 peserta lagi pulang kerumah masing-masing.
Dalam perjalanan pulang ke daerah tugas, saya melihat pemandangan kiri kanan yang begitu indah, di kiri lautan dan dikanannya pegunungan. Pemandangannya mirip seperti pemandangan dari pantai Caroline Bungus, Teluk Bayur ke kota Padang, ya begitu lah perjalanan saya dari Tapaktuan ke Labuhanhaji. Dalam perjalanan kami singgah di rumah makan di Air Dingin. Sesampai di Labuhanhaji saya dan rekan saya Rahmawati, menginap dirumah Bapak Kepala Sekolah. Dalam perjalanan sampai ke rumah kami di perkenalkan dengan nama-nama daerah dan tempat-tempat tertentu yang kami tempuh selama perjalanan. Perjalanan lebih kurang 1,5 jam.
Sesampai dirumah Kepala Sekolah kami juga disambut baik oleh keluarganya, mulai dari istri, anak-anak dan kerabat-kerabatnya, kami diperkenalkan satu persatu. Rasanya begitu wah penyambutan mereka buat kami, mereka merasa betul-betul mendapatkan sesuatu dengan kedatangan kami. Alhamdulilah membuat kami juga merasa betah tinggal disana.
Esok harinya, senin 12 Desember 2011, berangkat ke sekolah dengan pakaian kemaren saja, hehe (lucu ya, padahal baju kemaren udah bau dan kumal, tapi apa boleh buat, karena pesawat kelebihan muatan jadi barang-barang kami ditinggal di bandara Padang dan akan datang menyusul). Pas sampai di sekolah, ternyata tidak seperti sekolah-sekolah yang saya bayangkan, sebuah sekolah swasta yang sangat kecil dan muridnya pun sangat sedikit, jadi ketika berbaris upacara hampir semuanya jadi petugas upacara, tinggal lagi 2 orang sebagai vocal group. 
2 minggu observasi terhadap sekolah dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah dan tempat tinggal. Barulah semester 2 (genap kami mulai mengajar). Tak heran setelah itu, memang minat dan motifasi siswa sangat kurang sekali. jika sudah jam ke 5, 6 dan seterusnya tidak ada lagi siswa yang berada di sekolah, kalau pun ada bisa di hitung dengan jari. Total jumlah siswa adalah 85 orang dengan 4 rombel. Setelah kami datang kesini ada sedikit perubahan, karena kita memang punya tujuan yaitu membuat perubahan pada system pendidikan. Nah, ketika upacara pertama, Pembina upacara sudah memperingati siswa bahwasanya murid-murid tidak ada lagi alasan cabut karena guru tidak ada.
Alhamdulillah dengan penambahan guru kontrak SMAS Tarbiyah sebanyak 3 orang sangat membantu sekali dalam proses belajar mengajar. Siswa tidak lagi cabut pada jam ke 5, 6 dan seterusnya. Meskipun jadwal pulang mereka tidak sesuai dengan jadwal sebenarnya, jadwal pulang pada roster 13.25 WIB, tetapi siswa kita pulangkan ketika azan sudah berkumandang yaitu pukul 13.00. Tapi ini sudah membawa perubahan banyak pada siswa, baik minat maupun prestasinya.
Banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil selama saya menjadi peserta SM3T. Jika kita sebagai guru ingin membawa perubahan pada sistem pendidikan, kita lah yang harus memulainya terlebih dahulu. Yang saya temukan disekolah ini adalah jika telat saja guru masuk ke kelas jangan harap lagi ada muridnya. Mereka cabut dengan alasan tidak ada guru. Nah, disini kita belajar tentang kedisiplinan kita sebagai seorang guru. Bagaimana siswa bisa disiplin sedangkan guru seenaknya saja datang terlambat. Kemudian siswa disini perlu diberi motivasi tinggi, salah satu cara yang saya lakukan adalah dengan memberikan penghargaan berupa nilai dan doorprize, meskipun doorprize yang saya beri tidak lah seberapa harganya tetapi mereka senang, salah satunya permen, kemudian ketika semangatnya turun lagi doorprizenya saya tingkatkan lagi, yaitu kerajinan tangan yang saya buat sendiri (broos jilbab dan gantungan hp) dan tak jarang juga saya beri pulpen karena alasan siswa ketika tidak menulis atau mencatat adalah tidak punya pulpen.
Setiap kekosongan jam di sini kita selalu berusaha agar murid tidak keluar pekarangan sekolah. Salah satu usaha kami adalah kami masuk dan bercerita kepada mereka tentang apa saja. Setelah guru nya dating baru lah kami keluar. Setiap sabtu siang kami mengajarkan tentang baris berabris dan latihan upacara kepada anak. Karena dari pantauan kami PBB dan upacara mereka masih kacau balau.
Kegiatan ekstrakurikuler lainnya seperti pramuka, UKS tidak bisa kami lakukan disini karena keterbatasan alat dan minat siswa. Perlu diketahui bahwa SMA Tarbiyah terkenal dengan bengkelnya siswa nakal, pada umumnya siswa SMA Tarbiyah adalah mantan siswa di SMA Negeri. Mereka pindah ke SMA Tarbiyah karena tinggal kelas dan karena dikeluarkan dari sekolah. Dan SMA Tarbiyah lah yang mau menerima mereka. Jadi guru-guru SMA Tarbiyah saya rasa sangat luar biasa. Luar biasa perjuangannya menghadapi anak-anak nakal. Tetapi karena anak-anak disini nakal-nakal dan berwatak keras (watak orang pinggir pantai) jadi wajar saja dalam mendidik guru-guru memakai kekerasan. Dan datanglah kami memberi kelembutan yang mungkin mereka rindukan. Pepatah mengatakan bahwa api yang panas hanya bisa dimatikan dengan air yang sejuk. Jika api ditambah api tentu menjadi besar bukan? ^_^
Nah, itu cerita dan pengalaman disekolah, trus bagaimana cerita di lungkungan tempat tinggal saya???? Ini juga sesuatu yang luar biasa dan di luar dugaan saya sebelumnya. Pernah ketika tes wawancara SM3T ini saya ditanya “apa yang akan anda lakukan jika masuknya gaji tersendat-sendat?” artinya ketika saya sudah tidak punya uang, uangnya belum masuk juga. Spontan saya jawab “disana ada BANK kan buk ^_^?” beliau menjawab lagi, “jika tidak ada bagaimana?” saya jawab lagi “kebetulan saya punya keterampilan yang mungkin bisa saya jual disana buk, seperti membuta bross jilbab, gantungan handphone dan tas dari rajutan, jika saya sudah tidak punya uang lagi itu bisa saya jual dan saya bisa dapatkan uang untuk makan dan kebutuhan lainnya”. Lalu ibuk itu tersenyum dan kembali bertanya “iya klo masyarakat disana punya uang? Jika tidak bagaimana?” hehe, langsung bingung, saya hanya bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan senyum. Dan akhirnya wawancara selesai.
Hubungannya dengan cerita saya adalah ternyata keterampilan rajutan itu tidak hanya ada di kampong saya, disini juga ada yang bisa membuta rajutan yang saya maksud, tetapi ada sedikit perbedaan, nah perbedaan ini lah yang saya bagikan, saling berbagi dengan masyarakat disini, saya dapat ilmu dan saya pun memberikan ilmu kepada mereka. Disini mereka hanya membuat taplak meja rajutan, selain pengerjaannya lama, harganya juga mahal. Sedangkan bros jilbab, gantungan hp dan tas yang saya ajarakan hanya membutuhkan waktu singkat dan harganya pun bisa di jangkau. Setelah saya ajarkan Alhamdulillah ini menjadi sebuah mata pencaharian buat mereka. Mereka membuat bros dan tas untuk dipasarkan. Alhamdulillah, itu lah nikmatnya berbagi dengan sesama.
Kemudian pengalaman yang juga tidak terlupakan adalah saya bisa berkenalan dengan orang-orang di luar dugaan, siapa yang akan menyangka bisa berkenalan dengan orang-orang luar seperti orang Aceh, orang jawa yang di tugaskan di NTT, orang-orang yang di tugaskan di BIAK, PAPUA. Nah, SM3T lah wadah yang bisa mempertemukan meskipun hanya di dunia maya semata yaitu Facebook. Disana kita bisa berbagi pengalaman di daerah kita masing-masing. Semangat mereka memberikan motifasi dan inspirasi kepada kita. Jadi SM3T suatu yang luar biasa. Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada pihak yang sudah membuat saya menjadi seperti ini, tentu saya tau diri, saya tidak akan mengecewakan dan saya bersama rekan-rekan lainnya ingin membawa perubahan pendidikan kearah yang lebih baik. SEMANGAT !!!! MAJU BERSAMA SARJANA MENDIDIK DAERAH 3T (Terdepan, terluar dan tertinggal).


SEKIAN ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar